Tampilkan postingan dengan label Kesdua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesdua. Tampilkan semua postingan

Mengenal Makanan Pertama untuk Bayi

Mengenal Makanan Pertama Anak
Pada umumnya sistem pencernaan bayi belum siap menerima makanan padat sebelum mencapai usia 6 bulan. Untuk mengenalkan makanan padat pertama untuk bayi, kita harus memperhatikan hal ini dengan lebih serius agar tumbuh kembang bayi dapat berjalan optimal.

Ada beberapa kondisi bayi yang bisa menjadi acuan atau tanda bahwa bayi telah siap untuk makan makanan padat, diantaranya adalah :
  1. Bayi sudah bisa duduk walaupun dengan bantuan orang lain
  2. Berat badan bayi bertambah signifikan
  3. Nafsu makan bayi bertambah besar (konsumsi minum ASI atau susu bertambah)
  4. Sudah mulai bisa menegakkan kepala dengan stabil (tidak goyah)
  5. Tumbuh minat terhadap apapun yang dimakan ibu, misalnya mendekati hingga mencoba meraihnya
Apa saja makanan padat pertama yang baik untuk bayi ?

Hal penting yang harus kita catat ketika mengenalkan makanan padat pertama untuk bayi adalah makanan tersebut harus dalam kondisi halus, lembut dan tidak terlalu kental (agak cair). Menurut beberapa ahli nutrisi, disarankan untuk menggunakan satu jenis bahan makanan ketika membuat makanan padat pertama untuk bayi.
Pilihan Makanan Anka
Beberapa pilihan makanan padat pertama yang dapat anda berikan pada bayi antara lain :
- Pisang
Makanan padat pertama untuk bayi dari buah pisang sudah umum digunakan para ibu di Indonesia. Makanan ini baik bagi pertumbuhan bayi karena disukai bayi dan mengandung banyak nutrisi seperti magnesium, folat, selenium, kalsium dan vitamin (A & C).
- Sereal
Makanan padat pertama untuk bayi menggunakan sereal bisa dicampur dengan ASI. Selain sereal mudah dikonsumsi oleh bayi, rasa ASI pada makanan ini dapat membuat bayi mudah untuk beradaptasi. 
Anda bisa memilih sereal seperti gandum dan nasi sebagai tahap awal, namun pastikan dibuat dalam kondisi lembut, halus dan tidak kental (misalnya dibuat bubur halus).
- Buah Pir
Makanan dari buah pir yang dihaluskan juga mudah dicerna oleh bayi dan memiliki rasa manis yang disukai bayi. Buah pir mengandung banyak nutrisi seperti yang dimiliki buah pisang dan bermanfaat baik untuk tubuh bayi.
- Alpukat
Makanan padat pertama untuk bayi dari buah alpukat juga bisa menjadi pilihan terbaik bagi anda. Tekstur makanan yang lembut menjadikan alpukat mudah dikonsumsi bayi. Selain itu, alpukat mengandung banyak manfaat bagi tubuh bayi karena kaya akan vitamin (A, B3 dan C), fosfor, potasium, magnesium, zat besi dan kalsium.

Baca juga : Mengenal Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk Bayi Usia 6 sd 12 bulan

Beberapa tips memberikan makanan padat pertama pada bayi

Mengenalkan makanan padat untuk bayi juga diperlukan beberapa tips khusus ketika memberikan makanan padat pertama untuk mereka.

  1. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan membiarkan bayi mencicipi rasa makanan tersebut.
  2. Sebagai langkah permulaan, anda dapat memberikan makanan padat cukup 1 x sehari, sebanyak 2 hingga 3 sendok makan. Pemberian ASI atau susu dapat terus diberikan dengan diselingi pemberian makanan padat pertama.
  3. Anda dapat memulainya mencoba memberikan sedikit makanan tersebut dengan cara meletakkan pada ujung sendok. Agar tidak melukai mulut dan gusi bayi, anda dapat menggunakan sendok dengan ujung yang lembut.
  4. Biasanya untuk pertama kali, bayi tidak akan makan banyak. Anda tidak perlu panik, karena hal itu biasa terjadi dan pastinya butuh waktu untuk penyesuaian diri bayi.
Semoga bermanfaat

Penyakit Campak Rubella

Campak Rubella
Penyakit Campak Rubella disebabkan oleh virus rubella yang mudah menyebar pada orang lain. Media penularan campak rubella dapat terjadi melalui udara, menggunakan barang yang sama (misalnya piring, gelas atau handuk) dan kontak fisik dengan penderita. 

Campak, Rubella dan Kehamilan

Rubella pada dasarnya berbeda dengan campak biasa. Penyakit rubella pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Namun penyakit ini sangat berbahaya apabila menjangkiti ibu hamil yang memiliki usia kandungan dibawah lima bulan.

Rubella dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan. Selain itu, resiko terjadinya sindrom rubella kongenital merupakan ancaman serius yang patut anda ketahui. 

Sindrom rubella kongenital inilah yang berpotensi menyebabkan terjadinya cacat lahir pada bayi seperti kerusakan otak, organ tubuh bayi, katarak, tuli dan berbagai kelainan tumbuh kembang fungsi tubuh bayi. Misalnya hipertiroidisme, diabetes tipe 1 serta pembengkakan otak pada bayi yang lahir dari penderita penyakit ini.

Gejala Umum Penyakit Rubella

Pada anak-anak, penderita rubella cenderung mengalami gejala yang lebih ringan daripada orang dewasa.  Tetapi ada juga penderita rubella yang tidak terlihat mengalami gejala apa pun namun tetap dapat menularkan rubella.

  • Sakit kepala
  • Ruam berbintik kemerah-merahan, umumnya muncul pertama diwajah dan kemudian menyebar di seluruh tubuh.
  • Demam
  • Tidak nafsu makan
  • Hidung tersumbat dan muncul ingus
  • Iritasi ringan pada mata
  • Nyeri sendi, biasanya terjadi pada penderita usia remaja
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher dan telinga 

Rata-rata penyakit rubella membutuhkan waktu sekitar 5 hari sampai 1 minggu untuk menyebar ke seluruh tubuh. Hal penting yang harus anda ketahui adalah masa penularan penyakit campak rubella akan semakin aktif  1-5 hari setelah ruam merah pada tubuh penderita mulai muncul.

Anda harus segera memeriksakan diri dan anak-anak apabila diketahui mengalami beberapa gejala seperti yang disebutkan diatas guna mendapatkan langkah penanganan yang tepat.

Tahapan Diagnosis Rubella

Ruam kemerahan pada kulit akibat penyakit rubella memiliki bentuk yang hampir sama dengan ruam-ruam lainnya. Dalam tahap diagnosis, dokter biasanya akan menggunakan sampel darah atau air liur untuk diperiksa lebih teliti di laboratorium.

Tes laboratorium tersebut digunakan guna mendeteksi ada tidaknya antibodi rubella. Apabila pada hasil tes ditemukan antibodi IgM, bisa dipastikan anda terinfeksi Rubella. Sedangkan bila ditemukan antibodi IgG, hal ini menandakan bahwa anda sudah pernah mendapatkan vaksinasi MMR dan pernah mengidap penyakit Rubella.

Dalam rangkaian tes prenatal untuk ibu hamil juga bisa dibarengi dengan pemeriksaan diagnosis campak rubella. Hal ini perlu dilakukan apabila ada gejala-gejala seperti diatas atau terjadi kasus penyebaran campak rubella di lingkungan sekitar tempat tinggal ibu hamil tersebut.

Ketika ibu hamil didapati mengidap Rubella, proses pemeriksaan lanjutan yang biasanya dianjurkan untuk dilakukan adalah amniosentesis dan USG. Amniosentesis merupakan  prosedur pengambilan dan analisis terhadap sampel cairan ketuban untuk mendeteksi adanya kelainan pada janin.

Perawatan Campak Rubella

Walaupun Rubella tidak membutuhkan penanganan medis yang khusus. Pengobatan dapat  anda lakukan di rumah dengan cara perawatan yang sederhana. Tujuan perawatan ini bukan untuk mempercepat penyembuhan Rubella, namun   untuk meringankan gejala yang terjadi. 

Berikut ini beberapa langkah perawatan campak rubella yang dapat anda lakukan.
  • Menjaga waktu istirahat yang cukup.
  • Mengkonsumsi paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan nyeri sendi dan menurukan demam.
  • Banyak minum air putih guna mencegah dehidrasi.
  • Minum air hangat yang dicampur lemon dan madu juga dapat membantu meredakan sakit tenggorokan dan membantu mengeluarkan ingus pada hidung.

Langkah Pencegahan Campak Rubella

Menurut data, kurang lebih sekitar 90 persen orang yang pernah menerima vaksin ini dapat terhindar dari rubella. Jumlah kasus penyebaran rubella secara global dapat ditekan secara signifikan sejak dimulainya program vaksinasi ini.

Di Indonesia, vaksin kombinasi MMR yang digunakan dalam program vaksinasi rubella juga dapat mencegah penyakit campak dan gondong.  

Program vaksin ini juga termasuk dalam salah satu daftar imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia, dan dapat diberikan 2 kali pada masa-masa berikut ini :

Tahap 1 : Usia anak 15 sd 18 bulan dengan interval jarak dari imunisasi campak paling tidak 6 bulan.
Tahap 2 : Program vaksinasi dapat diulang ketika anak mencapai usia 6 tahun

Pencegahan Penularan Campak Rubella
  • Rajin menjaga kebersihan diri, seperti selalu mencuci makan sebelum makan dan setelah bepergian, atau terjadi kontak dengan penderita rubella.
  • Memisahkan penderita dengan anggota keluarga lainnya dalam ruangan yang berbeda.
  • Menghindari kontak langsung dengan penderita rubella, khususnya bagi ibu hamil yang belum mendapatkan vaksin MMR dan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Mengenali Penyakit Batuk Pada Anak

Anak Sedang Batuk
Batuk pada Anak memang bisa mencemaskan kedua orang tuanya, apalagi bila Anak sering batuk setiap harinya. 

Penyakit batuk Anak tidak bisa dianggap remeh karena bisa menjadi gejala munculnya beberapa penyakit tertentu atau komplikasi penyakit lain. Ketika batuk pada Anak anda tidak mereda dalam waktu 2 minggu. Sebaiknya anda perlu segera memberikan penanganan khusus untuk mengantisipasi hal-hal lainnya.

Mengenali jenis penyakit batuk padaAnak

Penyakit batuk yang sering dialami Anak sama dengan yang dialami oleh orang dewasa, yaitu batuk kering dan batuk berdahak.

Batuk kering terjadi karena adanya rasa gatal pada tenggorokan Anak. Umumnya masalah ini disebabkan karena pembengkakan pada saluran pernafasan Anak. Selain itu, bisa juga merupakan pertanda bayi anda telah tertular penyakit flu atau pilek.

Sementara itu, batuk berdahak terjadi karena adanya dahak pada paru-paru Anak. Reaksi tubuh pada Anak secara spontan akan berusaha mengeluarkan dahak itu melalui batuk.

Penyakit batuk pada bayi wajib anda waspadai bila diikuti gejala lain seperti hidung tersumbat, mata merah, demam, radang tenggorokan hingga tidak nafsu makan. Pada beberapa kasus lain, muncul pembengkakak kelenjar getah bening pada bagian leher, bawah lengan atau kepala bagian belakang.

Upaya meringankan batuk pada bayi dengan cara sederhana 

Walaupun kini mudah untuk mendapatkan beragam jenis obat batuk dan flu untuk Anak anda, anda harus berhati-hati ketika memberi obat tersebut pada anak anda. Sebaiknya anda tidak memberikan obat batuk atau flu pada Anak dibawah umur 6 tahun tanpa resep dokter. 

Untuk meringankan batuk pada Anak anda, bisa dilakukan dengan cara sederhana dibawah ini, antara lain :
  • Perbanyak waktu tidur dan istirahat Anak anda
  • Perbanyak pemberian ASI ekslusif selama Anak sakit, hal ini sangat penting untuk membantu tubuh bayi anda melawan infeksi penyakit yang ada.
  • Ketika Anak anda mengalami demam, segeralah berkonsultasi pada dokter keluarga anda. Kemudian anda dapat memberikan obat khusus bayi untuk meredakan demam tersebut.
  • Bayi yang telah berusia diatas 1 tahun, bisa diberikan minuman yang terdiri dari campuran madu dengan air lemon untuk membantu meringankan penyakit batuk yang dialami bayi anda.

Tanda-tanda bahaya yang menyertai penyakit batuk pada Anak

Berikut ini adalah beberapa tanda-tanda yang wajib anda cermati, agar penyakit batuk pada Anak anda tidak berakibat fatal untuk kesehatannya. Biasanya batuk pada bayi dengan gejala-gejala dibawah ini memerlukan penanganan khusus  di rumah sakit ataupun dokter anak.

Tanda-tanda tersebut antara lain :
  • Batuk pada bayi disertai muntah-muntah.
  • Demam pada bayi berlangsung lebih dari tiga hari, hal ini menjadi sangat penting untuk bayi yang berumur dibawah 3 bulan.  Untuk bayi di atas usia 3 bulan,  anda wajib waspada jika demam telah mencapai 38,9 derajat celcius atau lebih.
  • Bayi enggan menyusui dan minum air putih sehingga mengalami dehidrasi. Untuk mengeceknya, anda dapat melihat kondisi popok bayi anda. Bayi seharusnya buang air kecil dalam rentang waktu 6 jam. Ketika bayi tidak buang air kecil dalam waktu yang cukup lama bisa jadi Anak anda telah mengalami dehidrasi.
  • Dahak yang dikeluarkan Anak berwarna hijau, kecokelatan atau kuning. 
  • Anak sulit bernafas.
Selain itu, anda mesti mewaspadai munculnya gejala batuk rejan pada Anak. Batuk rejan mudah menular dan berbahaya bila dialami Anak yang berusia dibawah 6 bulan. Yang paling dihindari dari penyakit batuk pada bayi adalah adanya komplikasi akibat penyakit batuk rejan. Kondisi ini bisa menyebabkan Anak sulit bernafas dan kulitnya membiru.

Komplikasi penyakit batuk rejan pada bayi biasanya dimulai dari napas sering terhenti, gemetar tidak terkendali, pneumonia, gangguan pada otak hingga kematian pada Anak. Bertindak cepat sangat diperlukan untuk mengatasi batuk rejan pada bayi agar dokter dapat memberikan penanganan yang tepat.

Walaupun penyakit batuk sering dianggap umum terjadi, para orang tua tetap harus waspada ketika batuk pada bayi disertai dengan beberapa gejala seperti diatas.